SEKILAS PHONIKA

Kebutuhan pupuk di Indonesia setiap tahun terus meningkat selaras dengan semakin intensif program ektensifikasi pertanian, khususnya dengan terus bertambah luasnya areal pekebunan. Estimasi kebutuhan pupuk besar, menjadi peluang dan tantangan bagi kita semua, khususnya di bidang industri pupuk untuk menyediakan dan ikut berpartisipasi dalam membantu mensukseskan program pertanian secara keseluruhan.

Telah disadari bahwa pencapaian efisiensi pemupukan di negara berkembang masih belum menggembirakan. Kebocoran-kebocoran kehilangan pupuk di lahan pertaniaan yang disebabkan kurang optimalnya tindakan pemupukan dan penggunaan kualitas pupuk rendah acap kali masih banyak terjadi, sehingga telah menyebabkan pemborosan energi dan sumberdaya yang semakin terbatas.  Oleh karena itu, upaya peningkatan efisiensi pemupukan akan terus digalakan dan menjadi kewajiban kita semua untuk bahu membahu dalam mendorong tercapainya pengelolaan pertanian efisien yang menguntungkan. Para praktisi pertaniaan harus terus berupaya untuk melakukan tindakan pemupukan mengikuti kaidah-kaidah yang benar dan bijaksana, sementara kalangan peneliti dan industri pupuk berkewajiban untuk menciptakan dan merekaya jenis pupuk dan formulasinya sesuai standar kebutuhan yang diharapkan.

Dalam rangka mendukung program pemerintah dalam memenuhi kebutuhan pupuk pertanian, juga untuk membantu memaksimalkan efektifitas dan efisensi pupuk lengkap yang ramah lingkungan bagi aneka komoditas pertanian, maka PT ANUGERAH PUPUK MAKMUR telah  memformulasi dan memproduksi pupuk dengan merk dagang PHONIKA dengan kapasitas 160.000 ton/tahun. Pupuk ini memiliki keunggulan kualitas produk yang direkayasa berdasarkan penggunaan teknologi (melting dan coating), kualitas material bahan yang digunakan dan kemudahan dalam aplikasi.

PHONIKA merupakan pupuk NPK granul yang dilengkapi hara semi makro dan mikro serta asam humik yang komposisinya dapat disesuaikan dengan kebutuhan tanaman (by order). Secara fisik, PHONIKA berbentuk butiran granuler dengan diameter butir berkisar antara 3-6 mm, memiliki berat jenis 1,33 g/cm3, sehingga memudahkan dalam penempatan pupuk dan penggunaan alsintan fertilizer applicator (FA).  PHONIKA direkayasa dengan tingkat kelarutan dan penyediaan hara bagi tanaman dapat bersifat fast release dan slow release, sehingga dapat digunakan untuk pemupukan aneka tanaman, seperti; tanaman semusim (padi, jagung, tebu, dll) dan tanaman tahunan/perkebunan (sawit, karet, kopi, kakao, teh, dll).

Penggunaan PHONIKA akan memaksimalkan efektifitas dan efisiensi pemupukan yang mampu meningkatkan keuntungan budidaya pertanian sambil tetap menjaga kelestarian produktivitas lahan, melalui ; (1) komposisi kandungan hara sesuai kebutuhan kebutuhan tanaman (by order) yang dapat ditetapkan berdasarkan pendekatan ketersediaan hara tanah dan jaringan tanaman, (2)  meningkatkan produktivitas tanaman secara optimal atau target produktivitas, (3) meningkatkan kualitas produksi tanaman, (4) menjaga kelestarian produktivitas lahan terjaga kelestariaanya dan (5) menekan pengaruh negatif terhadap kerusakan lahan, dan (6) memudahkan dalam penempatan pupuk (broad cash, side band, pop up, dll), khususnya dalam penggunaan fertilizer applicator (FA),  sehingga  dapat menghemat penggunaan tenaga, waktu dan biaya aplikasi.

Memperhatikan manfaat PHONIKA terhadap pengelolaan pertanian, maka kami percaya pupuk ini dapat membantu para praktisi untuk memberikan solusi terbaik dalam upaya meningkatkan efisiensi pemupukan.  Selain itu, PHONIKA memiliki harga yang cukup kompetitif dibanding dengan pupuk lain yang sejenis, sehingga memberikan peluang keuntungan dalam pengelolaan pertanian.

LATAR BELAKANG

Usaha pertanian yang menguntungkan sangat dipengaruhi oleh keberhasilan dalam penggunaan pupuk secara efisien.  Sejauh ini, upaya untuk meningkatkan efisiensi pemupukan masih bersandar kepada tindakan yang tepat dalam hal memilih jenis, dosis, cara, waktu dan frekuensi aplikasi pupuk.  Pengenalan jenis pupuk menjadi salah satu kunci sangat penting dalam upaya pencapaian sasaran produksi yang diharapkan, yaitu pencapaian pada tingkat efisiensi tinggi.  Tindakan pemupukan akan menjadi rancu apabila pengguna pupuk tidak memahami jenis pupuk yang pakai. Kurang akuratnya pemilihan jenis pupuk juga, akan menyebabkan budidaya menjadi sia-sia dan mendatangkan kerugian usaha tidak sedikit.  Oleh karena itu, kenalilah pupuk yang digunakan, maka niscaya akan membantu kita meraih keuntungan usaha secara maksimal.

Di pasaran, dikenal macam pupuk berbentuk padat, berupa; powder, butiran kristal, priil, butiran granuler, padatan briket, dll. Selain itu, berdasarkan jumlah unsur dalam pupuk, dikenal juga dengan macam pupuk tunggal dan pupuk majemuk. Efektifitas penggunaan pupuk tunggal terhadap peningkatan hasil tidak perlu diragukan. Kemudian, telah banyak juga dilaporkan juga, bahwa peran pupuk majemuk dalam peningkatan hasil berkontribusi sama efektifnya dengan pupuk tunggal. Dengan alasan kemudahan, penghematan biaya aplikasi dan kelangkaan tenaga kerja, serta banyak diakuinya peran hara mikro yang dikombinasikan dengan pupuk makro terhadap peningkatan hasil, maka akhir-akhir ini penggunaan pupuk majemuk untuk pertanian lebih banyak diminati. Fakta lain, jenis pupuk berbutir granuler lebih banyak digunakan pada berbagai komoditas pertanian. Oleh karena itu, kedepan peran pupuk majemuk ini dengan segala keunggulannya akan lebih diminati dan peluang kebutuhannya cukup besar.

Selaras dengan kebutuhan pupuk pertanian, maka telah direkayasa dan diproduksi suatu jenis pupuk majemuk berbutir granuler yang diberi nama PHONIKA.  Pupuk ini diproduksi pada skala pabrik dengan kapasitas 160.000 ton/tahun oleh PT ANUGERAH PUPUK MAKMUR. Tujuan dari pengadaan pupuk ini yaitu selain untuk mendukung program pemerintah dalam memenuhi kebutuhan pupuk pertanian, juga untuk membantu memaksimalkan efektifitas dan efisensi pupuk lengkap yang ramah lingkungan bagi aneka komoditas pertanian.

PENGERTIAN PHONIKA

PHONIKA merupakan merk dagang dari suatu pupuk majemuk NPK granul compound yang diproduksi oleh PT ANUGERAH PUPUK LESTARI yang terdaftar atas NIB: 8120013230772 dan IUI: 503/01/IUI/20125/KP3M/II/2016. Untuk kepentingan pemasaran dan komersialisasi, PHONIKA telah memiliki legalitas SERTIFIKAT MERK: IDM000086595, SNI: 2803-2012, NRP: 127-014-190649 serta NOMOR PENDAFTARAN: 01.01.2020.043. Dengan kata lain, PHONIKA telah diuji melalui tahap prosedur dan proses kendali mutu maupun kendali efektifitas manfaat pupuk bagi komoditas pertanian. Keuntungan kualitas produk PHONIKA dapat diperhatikan melalui keunggulan penggunaan teknologi (melting dan coating), kualitas material bahan yang digunakan dan kemudahan dalam aplikasi.

Karakteristik Fisik dan Kimia
PHONIKA merupakan pupuk padatan anorganik yang diaplikasikan ke tanah untuk kepentingan tanaman. Secara fisik, PHONIKA berbentuk butiran granuler dengan diameter butiran antara 3-6 mm dan memiliki berat jenis sekitar 1.33 g/cm3. PHONIKA memiliki struktur permukaan butiran halus sampai sangat halus, berkaitan dengan penataan antar partikel butiran halus membentuk jalinan ukuran pori mikro yang rapat sampai sangat rapat, padat dan massif. Bentuk fisik ini direkayasa untuk tujuan dalam memudahkan aplikasi penempatan pupuk, baik dilakukan secara manual/konvensional maupun menggunakan peralatan mekanis (fertilizer applicator). PHONIKA memiliki warna yang bervariasi tergantung dari bahan coating yang digunakan, namun secara umum dibuat warna yang menarik dan cerah, seperti misalnya; putih, kuning, merah ros, ungu, dll.

Sesuai nama jenis pupuknya, kandungan hara utama dalam PHONIKA adalah hara makro NPK, yang dapat diperkaya dengan unsur hara lain yang dibutuhkan tanaman, seperti misalnya; hara semi makro Ca, Mg, S dan hara mikro, khususnya; Si, B, Cu, Zn dan Fe. PHONIKA juga diperkaya dengan humic substances (HS), yaitu suatu bahan yang dapat menjaga keseimbangan dan ketersediaan hara, sehingga membantu memudahkan penyerapan hara oleh perakaran tanaman. Bahan ini juga dapat berfungsi untuk membantu memperbaiki sifat fisik tanah. Setiap unsur hara dan HS terintegrasi dalam suatu butiran granul, dengan komposisi kandungan masing-masing unsur bersifat lentur, dapat diatur dan disesuaikan dengan kebutuhan. Dengan kata lain, PHONIKA merupakan suatu pupuk dengan hara lengkap yang ketersediaannya disesuaikan dengan kebutuhan tanaman.

Penggunaan Bahan Baku
PHONIKA selalu menekankan pentingnya kualitas produk. Untuk menjaga mutu yang disyaratkan SNI, PHONIKA dibuat menggunakan bahan baku pilihan yang kualitasnya dijamin dan kandungan unsure-unsurnya diketahui terukur melalui proses analisis laboratorium kimia. Sumber utama bahan baku PHONIKA, antara lain: urea, zuafelzuur amonium, monoamonium fosfat, diamonium fosfat, rock fosfat, potassium khlorida, potassium sulfat, dolomit, kalsit, ferro sulfat, terusi, seng sulfat, manggan sulfat, asam borat, asam humik, kalsium silikat, dan bahan baku coating dari bahan kimia anorganik maupun bahan kimia organik.

Teknologi Proses
PHONIKA diproduksi melalui rangkaian proses granulasi, terdiri dari tahapan; penimbangan, pencampuran dan penghancuran bahan, granulasi, pengeringan dan sortasi. Selain teknologi itu, PHONIKA dirancang menggunakan teknologi melting dan coating. Teknologi melting diterapkan pada proses granulasi melalui penyemprotan urea pasta ke dalam campuran bahan. Proses ini bertujuan untuk meningkatkan kadar nitrogen pupuk dan membentuk permukaan granulasi yang lebih halus dan solid. Sedangkan teknologi coating yang diterapkan sebelum prose packing, dilakukan penyelimutan bahan dengan menggunakan senyawa kimia tertentu. Prose ini bertujuan untuk mengatur kelarutan pupuk, membuat pupuk bersifat slow release, membuat penampilan pupuk yang lebih menarik dan menjadikan permukaan fisik pupuk yang lebih halus. Melalui penggunaan ke dua teknologi tersebut, dipastikan pupuk ini memiliki keunggulan tersendiri dibandingkan dengan pupuk-pupuk granuler biasa lainnya, antara lain; bentuk fisik yang tidak mudah hancur, tahan penyimpanan, tidak higroskopis dan volatil, dll, maupun keunggulan secara sifat kimia, seperti; kemampuan dalam menyediakan ketersediaan hara yang terukur. Keunggulan ini yang secara keseluruhan pada akhirnya akan memaksimalkan efektifitas dan efisiensi pemupukan.

Formulasi
PHONIKA menyediakan hara NPK sesuai kebutuhan dengan kandungan hara fleksible sesuai kepentingan tanaman dan ketersediaan hara tanah. Terdapat 3 jenis (varian) pupuk yang direkayasa, yaitu :

  1. N granul + PK granul, compound blending
  2. NPK granul, compound melting coating
  3. (NPK, trace element) granul, compound melting coating

Setiap varian pupuk direkayasa berkepentingan dengan tujuan pumupukan secara umum yang disesuaikan dengan kebutuhan tanaman untuk mencapai efisiensi tinggi, baik secara serapan, produktivitas maupun ekonomis. Meskipun komposisi PHONIKA bersifat lentur dapat dirancang sesuai kebutuhan, namun rekayasa komposisi standar disusun, sebagai berikut :

FORMULA FORMULA PHONIKA
N P2O5 K2O CaO MgO S04 TE
1 15 15 15 2 2 4 1
2 13 6 27 2 1 2 1
3 12 12 17 4 2 2 1
STANDAR 15 15 6 2 4 4 1
               
TAILOR MADE Formulasi bersifat lentur, dapat diubah sesuai kebutuhan tanaman,  berdasar analisis tanah dan daun, atau sesuai rekomendasi ahli. 

Keterangan : TE (trace element), utamanya Cu + Zn + B + Fe + Si

KEUNTUNGAN PENGGUNAAN

Secara umum, PHONIKA akan memaksimalkan efektifitas dan efisiensi pemupukan yang mampu meningkatkan keuntungan budidaya pertanian sambil tetap menjaga kelestarian produktivitas lahan, melalui ;

  1. PHONIKA dapat direkayasa dengan komposisi kandungan hara sesuai kebutuhan kebutuhan tanaman (by order) yang dapat ditetapkan berdasarkan pendekatan ketersediaan hara tanah dan jaringan tanaman, sehingga efektif dalam menekan pemborosan kehilangan hara asal pupuk di lahan pertaniaan.
  2. PHONIKA memiliki mekanisme pelepasan unsur hara sesuai kebutuhan dan karakteristik kimia tanah. Kelarutan pupuk lebih terukur untuk menyediakan hara cepat tersedia maupun lambat tersedia sesuai dengan fase pertumbuhan. Peristiwa penyediaan hara yang demikian, maka PHONIKA akan mampu meningkatkan produktivitas tanaman secara optimal atau target produktivitas yang diharapkan berdasarkan peningkatan efisiensi serapan maupun efisiensi produksi.
  3. PHONIKA dilengkapi nutrisi yang mampu mendorong peran metabolisme sink tanaman menjadi lebih baik, sehingga akan mampu meningkatkan kualitas produksi tanaman.
  4. PHONIKA menjadikan hara nitrogen tidak mudah hilang karena tercucikan, hara P terjerap tanah dan hara K tercuci maupun terjerap tanah, sehingga produktivitas lahan terjaga kelestariaanya dan menekan pengaruh negatif terhadap kerusakan lahan.
  5. PHONIKA dengan bentuk fisik butiran granuler memudahkan dalam penempatan pupuk (broad cast, side band, pop up, dll), khususnya dalam penggunaan fertilizer applicator (FA), sehingga dapat menghemat penggunaan tenaga, waktu dan biaya aplikasi

PHONIKA ANEKA TANAMAN

Falsafah pemupukan menyebutkan bahwa berikanlah pupuk sesuai kebutuhannya. Secara arif dapat diimplentasikan bahwa kebutuhan pupuk dapat diartikan tidak hanya sebatas jumlah saja, tetapi juga mengandung arti penyediaan nutrisi (hara) kebutuhannya perlu disesuaikan dengan fase pertumbuhannya. Prioritas kebutuhan nutrisi untuk fase pertumbuhan cepat, baik jenis maupun jumlah haranya tentu akan berbeda dengan nutrisi untuk fase pertumbuhan lambat. Demikian pula, perbedaan kebutuhan nutrisi antara tanaman semusim dan tanaman tahunan. Tanaman semusim memiliki siklus tumbuh yang lebih pendek dibanding tanaman tahunan. Pola dan fase pertumbuhan tanaman semusim per periode waktu akan berbeda dengan pola dan fase pertumbuhan tanaman tahunan, sehingga secara fisiologi kebutuhan dosis PHONIKA dan waktu ketersediaan nutrisi antara kedua tipe tanaman juga berlainan.

PHONIKA disediakan untuk aneka jenis tanaman pertanian, baik itu untuk tanaman semusim maupun tanaman perkebunan (tanaman tahunan). Pupuk ini dapat dirancang untuk kandungan jenis hara dan sifat pupuknya yang disesuaikan untuk kepentingan tanaman. Kandungan nutrisi dalam pupuk cukup lengkap, mulai dari hara utama yaitu hara makro NPK dan juga nutrisi hara semi makro dan mikro yang dibutuhkan tanaman. PHONIKA dirancang dengan sifat pupuk yang mampu menyediakan hara secara cepat (fast release) maupun penyediaan hara lambat tersedia (slow release) secara terukur disesuaikan dengan fase pertumbuhan tanaman. Dengan kata lain, karakteristik PHONIKA dapat di selaraskan dengan jenis dan sifat tanaman sesuai dengan pola pertumbuhan. Sebagai acuan kebutuhan dosis untuk masing-masing komoditas tanaman disajikan pada Tabel 1.

Tabel 1. Penggunaan PHONIKA untuk aneka tanaman pertanian

 

KOMODITAS ANJURAN
1. Padi 300 – 500 kg/ha
2. Jagung 400 – 500 kg/ha
3. Palawija 300 – 500 kg/ha
4. Tebu 500 – 700  kg/ha
5.a. Sawit Nursery 10 – 15 g/btg/2 bln
   b. Sawit TBM 2.0 – 3.0 kg/btg/2 bln
   c. Sawit TM 3.0 – 4.0 kg/btg/2 bln
6.a. Kopi Pembibitan 1.0 – 2.0 g/btg/bln
   b. Kopi TBM 50-140  g/phn/6 bln
   c. Kopi TM 300-350 g/phn/6 bln
7.a. Kakao Pembibitan 1.5 – 2.0 g/phn/bln
   b. Kakao TBM 40 – 135 g/phn/6 bln
   c. Kakao TM 250 – 300 g/phn/6 bln
8.a. Karet Pembibitan 1.5 – 3.0 g/polybag/6 bln
   b. Karet TBM 350 – 550 g/phn/thn
   c. Karet TM 300 – 500 g/phn/thn
9. Teh 600 – 800 kg/ha/3 thn
   
Keterangan: Dosis dapat disesuaikan dengan kebutuhan tanaman berdasar analisis tanah dan daun.

PROSES PHONIKA

PROSES PHONIKA MENYEDIAKAN HARA BAGI TANAMAN

PHONIKA menyediakan hara bagi tanaman melalui pelepasan hara secara terukur selaras kebutuhan tanaman. Berasarkan sifat kelarutan pupuk dalam menyediakan hara, PHONIKA dibedakan bersifat fast release dan slow release. PHONIKA fast release sebagian besar terlarut dan menyediakan hara secara cepat pada fase pertumbuhan cepat. Biasanya nutrisi yang disuplai seluruhnya asal PHONIKA tipe fast release memerlukan waktu pelarutan tidak lebih dari 1 bulan. Sedangkan jenis PHONIKA slow release memiliki kemampuan terlarut dan menyediakan hara pada kecepatan seimbang, baik untuk kepentingan nutrisi pada fase pertumbuhan cepat, pertumbuhan sedang dan lambat secara proporsional. PHONIKA tipe ini memiliki waktu pelarutan dan menyediakan hara di atas 1 bulan, biasanya waktu pelarutan pupuk antara 2-3 bulan dan bahkan dapat dirancang untuk kepentingan kemampuan menyediakan hara hingga 6-12 bulan. Perbedaan nyata antara PHONIKA fast release dengan slow release adalah dalam penggunaan bahan aditif slow release agent (SRA) dan bahan coating. PHONIKA slow release menggunakan kedua bahan tersebut, sedangkan pada PHONIKA fast release tidak menggunakan bahan aditif tersebut.

PHONIKA menyediakan hara bagi tanaman di dalam tanah diawali dengan terjadinya proses persentuhan materi pupuk dengan air asal kelembaban tanah. Reaksi kimia hidrolisis di permukaan materi pupuk akan menyebabkan terjadinya peristiwa ionisasi pada masing-masing unsur yang terkandung dalam bahan. Peristiwa reaksi kimia ini menyebabkan terjadinya pelarutan bahan pupuk untuk berubah menjadi hara dalam bentuk fraksi ion-ionnya. Karena PHONIKA direkayasa menggunakan bahan-bahan pilihan bermutu baik yang memiliki sifat mudah larut, maka kelarutan bahan PHONIKA akan segera membebaskan unsur-unsur hara untuk bergabung ke dalam larutan tanah, yang segera dimanfaatkan tanaman.

Peristiwa slow release pada PHONIKA terjadi, dimana proses hidrolisis yang menjadi kreator utama dalam pelarutan bahan menjadi bentuk-bentuk ion-ion dikendalikan secara parsial. Agen pengendali peristiwa hidrolisis parsial ini dapat diatur, yaitu melalui; (a) mekanisasi fisik dan (b) mekanisme kimia. Kedua mekanisme pengendali ini berjalan secara sinergi. Pengendali mekanisme fisik slow release yang digunakan pada PHONIKA, antara lain; sizing (ukuran butir) dan kemasipan (berkaitan dengan kerapatan pori mikro). PHONIKA memiliki kelarutan terbatas (terkendali) dirancang melalui pembentukan ukuran butir yang lebih besar (diameter 5-6 mm), sehingga luas permukaan yang bersentuhan dengan air (sebagai kreator hidrolisis) menjadi relatif lebih kecil. PHONIKA yang direkayasa dengan teknologi melting dan coating memiliki bentuk permukaan yang cukup halus dengan ukuran pori mikro sangat rapat dan masif. Kondisi permukaan dengan ukuran pori mikro yang rapat menyebabkan terjadinya pengendalian sentuhan lapisan air dengan lapisan permukaan material pupuk sedemikian rupa menjadi lebih terbatas. Pada keadaan demikian, proses hidrolisis pada keseluruhan material unsur yang terkandung dalam PHONIKA membutuhkan waktu yang relatif lebih lama dan proses pelarutan bahan berjalan lambat.

Pengendali mekanisme kimia slow release PHONIKA mengacu pada prinsip: (1) reaksi kimia bahan pembalut (coating) yang bersifat hidrofilik dan (2) interaksi keseimbangan antar unsur/senyawa asal bahan yang saling melindungi terhadap proses pelarutan. Agen penyelimut butiran pupuk (kumpulan hara dalam bahan) bersifat hidrofilik akan mengendalikan agresifitas peristiwa hidrolisis untuk bersentuhan langsung dengan hara dalam bahan pupuk. Air yang bersifat hidropobik kurang begitu suka berinter aksi secara kimia dengan senyawa coating yang bersifat hidrofilik. Dengan mengatur keseimbangan formula coating antara hidrofilik dan hidropobik akan menjadi kunci pengendali reaksi parsial hidrolisis antara air dengan nutrisi yang terkandung dalam bahan pupuk. Berdasarkan waktu, secara perlahan kekuatan air hidropobik akan semakin dominan dibanding bahan penyelimut (yang bersifat hidrofilik) selaras dengan semakin kuatnya peristiwa hidrolisis untuk melarutkan hara ke dalam bentuk ion-ionnya dalam larutan tanah.

Prinsip interaksi keseimbangan antar unsur atau senyawa yang saling melindungi mempengaruhi pelepasan hara berdasarkan reaksi kelarutan dan pengendapan (pembentukan senyawa yang tidak larut PHONIKA direkayasa menggunakan bahan anorganik mudah larut dalam air. Bahan baku PHONIKA mengandung unsur-unsur hara anorganik, antara lain ; N, P, K, Ca, Mg, S, Fe, Mn, Cu, Zn, dan B. Unsur-unsur ini terlarut dapat berupa ion unsur (K+, Ca2+, Mg2+, Fe2+, dll) atau ion molekul-molekul (NO3, HPO42-, SO42-, dll) yang satu sama lain dapat berinteraksi menjadi bentuk yang terlarut atau yang tidak terlarut. Sebagai contoh, kandungan P dalam bahan apabila terhidrolisis akan membentuk ion ortophosfat (sisa asam posfat) yang peristiwa kelarutannya akan sangat dikontrol oleh ketersediaan ion Ca, Cu, Zn, dan ion unsur logam lainnya yang siap membentuk senyawa baru yang bersifat tidak mudah tersedia, seperti Ca3(PO4)2 atau Zn3(PO4)2, berlaku sebaliknya terhadap ketersediaan hara ion unsur logam itu sendiri. Peristiwa reaksi demikian ini yaitu keseimbangan antara pembentukan hara terlarut dan pembentukan senyawa baru yang tidak mudah larut memberikan peluang waktu untuk terjadinya penyediaan hara yang relative lebih lambat tersedia. Peristiwa keseimbangan dari unsur atau senyawa yang saling melindungi ketersediaannya diilustrasi dengan reaksi kimia di bawah ini.

PETUNJUK PENGGUNAAN

PHONIKA direkayasa untuk meningkatkan efisensi pemupukan pada tingkat pencapaian produktivitas secara optimal yang menguntungkan. Manfaat penggunaan PHONIKA menjadi efektif apabila aplikasinya mengikuti baku teknis pemupukan dengan memperhatikan empat tepat, yaitu; tepat dosis, tepat cara, tepat waktu dan frekuensi aplikasinya.  Dalam hal cara aplikasi, sering dijumpai di lapangan bahwa dikarenakan sesuatu kendala, misalnya seperti persoalan keterbatasan tenaga telah menyebabkan cara aplikasi pemupukan dilakukan kurang sempurna. Untuk mengatasi situasi yang demikian, PHONIKA mengantisipasi melalui keunggulannya menjadikan pemupukan tetap efisien dengan meminimalkan kehilangan hara akibat sifat volatile dan proses pencucian.    Petunjuk teknis penggunaan PHONIKA ini disusun untuk menjadi panduan aplikasi pemupukan dalam rangka pencapaian efektifitas dan efisiensi pemupukan secara maksimal.

Penentuan Dosis Aplikasi
Penambahan pupuk ke dalam tanah dilatarbelakangi oleh adanya ketidak mampuan sebagian tanah untuk menyediakan hara yang dibutuhkan tanaman. Selain itu, perkembangan teknologi varietas unggul berproduksi tinggi memerlukan kebutuhan hara yang selaras untuk mengimbangi potensi produksinya, telah memaksa perlunya penambahan hara dari luar melalui tindakan pemupukan.

Penggunaan kebutuhan PHONIKA untuk pertaniaan ditetapkan berdasarkan hasil penelusuran penelitian secara terukur dan dapat dipertanggung jawabkan, melalui dua cara yaitu; (1) pengujian lapangan dan (2) analis tanah maupun daun. Penetapan kebutuhan dosis PHONIKA melalui pengujian lapangan pada komoditas pertanian menjadi acuan kerangka dasar penetapan kebutuhan pupuk. Meskipun membutuhkan waktu yang cukup lama, beberapa praktisi lebih menyukai cara penetapan ini, dikarenakan pendekatan terhadap prinsip bahwa tanaman tidak bias dibohongi dalam hal kebutuhan nutrisinya. Pupuk yang berkualitas baik akan berdampak baik, yang ditunjukkan oleh performa pertumbuhan dan hasil tanaman yang baik pula, demikian berlaku sebaliknya.

Kebutuhan dosis PHONIKA yang ditetapkan berdasarkan hasil analisa tanah dan daun melalui tahapan pengambilan contoh tanah atau daun, analisis laboratorium kimia dan penyelarasan kalibrasi hasil analisis terhadap piranti (nomograf) kecukupan dosis pupuk. Cara ini mulai banyak diterapkan dikarenakan selain cepat dalam mengambil langkah keputusan rekomendasi kebutuhan dosis pupuk juga cara ini memiliki kerangka pendekatan hasil yang dapat dipertanggung jawabkan, cepat dan relatifmudah untuk dilakukan langkah evaluasi pemupukan secara umum.

Penggunaan PHONIKA pada beberapa komoditas pertanian telah dilakukan penelitian uji efikasi dengan perolehan pencapaian produktivitas yang cukup menjanjikan.  Gambaran kebutuhan dosis PHONIKA untuk masing-masing komoditas pertaniaan disajikan pada tabel sub bab penggunaan vuntuk pertanian.  Kebutuhan dosis PHONIKA pada masing-masing komoditas tanaman dalam bentuk kisaran (terendah hingga tertinggi) dipengaruhi oleh kondisi lingkungan kesuburan tanah. Bagi praktisi, yang dikarenakan sesuatu hal belum memperoleh gambaran kesuburan tanah di lokasi budidaya yang diupayakan, maka untuk acuan sementara penggunaan dosis PHONIKA secara bijaksana sebaiknya ditetapkan menggunakan nilai rata-rata (terendah dan tertinggi) pada setiap komoditas tanaman yang diusahakan.  Setelah penetapan pemupukan dengan cara ini hasil-hasilnya diketahui, maka tahap selanjutnya dapat dilakukan langkah evaluasi melalui cara pengambilan contoh tanah dan daun.

Cara Aplikasi
PHONIKA dirancang secara fisik berbentuk butiran granuler dengan diameter dan berat jenis ideal yang diarahkan untuk memudahkan dalam penempatan pupuk, baik dilakukan secara manual/konvensional maupun cara mekanis menggunakan fertilizer applicator (FA).  Khusus untuk penggunaan FA, PHONIKA memiliki keunggulan tersendiri yaitu butiran granuler dengan diameter yang homogen serta Bj 1,33 g/cm3, sehingga akan memudahkan proses kalibrasi, menekan efek segregasi dan meningkatkan akurasi jatuh bebas penempatan pupuk di permukaan tanah.

PHONIKA sangat ideal diaplikasikan untuk seluruh cara apalikasi pemupukan yang dikenal, disesuaikan dengan kebiasaan setempat dan pertimbangan efisiensi, dalam rangka;  pencapaian sasaran produksi, pengehematan biaya, kecepatan waktu pelaksanaan aplikasi dan penekanan kehilangan pupuk serta penekanan terhadap kerusakan lingkungan. PHONIKA sangat mudah diaplikasikan, disesuaikan dengan kebutuhan jenis tanaman, antara lain ;

  1. Broadcast, dengan cara disebar merata di permukaan tanah.
  2. Side band, dengan cara penempatan pupuk mendekati sistem perakaran, biasanya disamping kiri/kanan sistem perakaran.

Aplikasi PHONIKA cara broadcash efektif digunakan pada tanaman semusim (padi) dan tanaman tahunan, seperti ; sawit, karet, kopi dan kakao, khususnya pada tanaman yang sudah menghasilkan (TBM dan TM) dan juga tanaman teh.   Sifat kondisi tanah dan  cara budidaya penanaman menentukan pemilihan cara pemupukan ini. Sebagai contoh, pada tanaman padi dengan kondisi tanah yang basah, maka penggunaan PHONIKA memiliki keunggulan dari sifat fisik ukuran butir dengan Bj 1,33 g/cm3, memungkinkan pupuk akan segera masuk kelapisan oksidasi menjadi mudah tersedia dan diambil perakaran, kemudian pupuk tidak cepat terlarut pada lapisan air di permukaan tanah yang memungkinkan hara terbawa aliran air khususnya pada sistem pengairan kontinyu. Pada tanaman sawit yang berpola pembentukan piringan dan sistem perakaran serabut, maka peletakan pupuk cara broadcast memungkinkan nutrisi secara merata menyebar mendekati pola perakaran.    Hal yang sama juga dapat diperhatikan pada pola penanaman karet, kopi, coklat dan teh.  Pada masing-masing pembibitan tanaman tahunan, cara broadcash tidak dianjurkan dikarenakan system penggunaan media pot/polybag.

Aplikasi PHONIKA dengan cara sideband memberikan hasil efektifitas dan efisiensi terbaik pada sebagian besar tanaman semusim. Apabila tidak terkendala persoalan keterbatasan tenaga, side band PHONIKA juga sangat efektif diaplikasikan pada tanaman tahunan, seperti;  karet, kopi dan kakao, dengan cara pupuk diletakan dalam piringan. Catatan yang cukup penting, PHONIKA memiliki nilai salt indeks cukup rendah < 1,12{e16fb344551d138aca5225767a3e5f1d0531de9709706c540e6b090a8034a97e}, sehingga aman dengan cara penempatan pupuk sedekat mungkin perakaran tanaman yang tidak beresiko adanya pengaruh osmotik.

Pemupukan yang baik dilakukan  selalu diikuti oleh tahap penutupan pupuk oleh masa tanah.  Tindakan penutupan dilakukan untuk meningkatkan proses kecepatan pupuk dalam menyediakan hara melalui pelarutan dan menekan kehilangan nutrisi yang mudah menguap, tercucikan dan terbawa run off.   Tidak dipungkiri bahwa kondisi di lapangan terkadang banyak kendala yang dihadapi dalam aplikasi pupuk, yang utama adalah persoalan keterbatasan tenaga. Pada keadaan demikian, tindakan pemupukan tidak lagi mengharapkan kondisi ideal dengan penutupan.  Praktisi lebih menghendaki pemilihan pupuk yang praktis digunakan dalam kemudahan aplikasi, waktu pelaksanaan cepat dan sambil tetap terjaga pencapaiaan efisiensi dan efektifitas yang menguntungkan. PHONIKA yang direkayasa dengan teknologi coating memungkinkan dapat lebih mudah mengatasi kehilangan pupuk karena volatilisasi dan pencucian, sehingga pupuk tetap terjaga aman meskipun tanpa dilakukan penutupan dengan tanah.

Waktu dan Frekuensi Aplikasi
PHONIKA dirancang dapat bersifat fast release dan slow release.  Guna mendapatkan hasil yang optimal, waktu dan frekuensi PHONIKA juga tergantung kepada pola pertumbuhan tanaman. Bagi tanaman semusim yang menggunakan PHONIKA fast release, maka dalam aplikasinya dilakukan 2 tahap, yaitu; pada awal fase pertumbuhan cepat (pada saat tanaman) dan menjelang memasuki pertumbuhan mulai melambat (mulai diikuti pertumbuhan generatif). Pemilihan PHONIKA fast release juga efektif digunakan pada pembibitan tanaman tahunan.  Apabila menggunakan PHONIKA slow release, maka dipilih PHONIKA dengan kemampuan menyediakan hara selama 2-3 bulan.  Aplikasi pupuk ini dilakukan 1 tahap yaitu bersamaan waktu tanaman dan tidak disarankan bersamaan pengolahan tanah dikarenakan akan merusak struktur bahan SRA-nya.

Bagi tanaman tahunan (sawit, karet, kopi, kakao) yang sudah menghasilkan (TBM dan TM) memiliki fase pertumbuhan yang relatif lebih panjang, penggunaan PHONIKA slow release akan lebih efektif. PHONIKA diaplikasikan dalam 1 tahap seluruh dosis disesuaikan dengan jenis tanaman. Sifat PHONIKA slow release akan menjamin penyediaan suplai hara sepanjang periode pertumbuhannya selaras dengan kemampuannya dalam menekan kehilangan pupuk yang diakibatkan oleh volatilisasi dan pencucian hara.